Koshien untuk Piala Dunia

Tulisan ini saya buat dalam rangka HUT RI ke 70. Tulisannya mainstream sih pasti udah banyak yang nulis cem gini. Tapi ya bodo ah lagi pengen nulis aja mumpung momennya ada

Sebenernya sudah 70 tahun sih Indonesia merdeka, saya sih baru merasakan 23 17 Agustus semenjak saya lahir, dan dari 23 itu saya juga ingetnya palingan dari TK perayaan 17an. Perayaan perayaan saya lewati dengan hal hal yang semacam sudah ‘tradisi’. Sebutlah lomba-lomba, upacara maupun menikmati hari libur tambahan dari pemerintah ini.

Seingat saya kondisi Indonesia sekarang tak beda jauh dengan sewaktu saya SD, ya bedanya palingan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah dewasa ini. Lalu kenapa momen seperti 17-an ini tidak dapat digunakan pemerintah sebagai katalis? Kalau saya jadi pemerintah sih saya bakalan ngadain lomba essay atau project yang temanya adalah menyelesaikan permasalahan bangsa dan hadiahnya tentu saya ide tersebut direalisasikan dengan si pemenang menjadi penanggung jawab. Kalau ada yang bertanya kenapa pemenang harus jadi PICnya sih ya saya jawabnya dunia pemerintahan sekarang sudah penuh ketidakidealan, tanpa suudzon kita seakaan-akan dibuat tidak bisa lagi percaya kalau ada pejabat yang jujur (ada sih saya yakin). Hampir berapa minggu sekali ada saja pejabat yang ditangkap karena korupsi yang bermula dari konflik kepentingan. Jadinya ya alangkah baiknya biarkan mahasiswa yang “katanya” masih ideal lah yang jadi PIC nya. Ini kalau jaman Pak Harto kayanya besok saya dipecat dari perusahaan saya habis nulis ini haha

Berhubung masih dalam suasana hut kemerdekaan RI, disini sya amau menulis beberapa saran untuk salah satu bidang yang saya gemari, bukan…bukan energi yang notabene adalah salah satu bidang yang dekat dengan jurusan saya saat kuliah, tapi bidang olahraga. Ya olahraga

Sejak kecil saya suka sekali mengikuti dan menonton olahraga, ya bukan memainkan. Sebenernya suka juga sih memainkan tapi ya cuma main-main karena sadar dengan fisik dan kemampuan yang di bawah standar. Olahraga yang paling saya gemari adalah olahraga sejuta umat yaitu sepakbola. Olahraga inilah yang ingin saya bahas

Tahun 2002 adalah tahun pertama saya menggemari sepakbola tepatnya menggemari mengikuti perkembangannya, kalau mainnya sih ya udah dari kecil baik di lapangan depan rumah, lapangan di desa, lapanngan di gor hingga di lorong, baik dengan bola hingga tutup botol, dari gawang berupa pohon hingga batu maupun sepatu.

Berawal dari piala dunia Korea-Jepang hingga kini saya rutin menonton dan mengikuti perkembangan sepakbola, tak terkecuali sepakbola Indonesia. Banyak yang berubah sejak saya mulai menggemari olahraga ini. Dulu Filipina dihancurkan Indonesia 1-13, kini terakhir kali mereka bertemu di piala AFF, Garuda menyerah 0-4. Dulu Parma masih rutin bermain di Piala UEFA (cikal bakal Europa League) kini boro-boro ke Eropa, tim Italia ini sudah dinyatakan bangkrut, dulu Australia masih ikut zona Oseania, sekarang negeri kangguru sudah berkompetisi di Asia. Dulu Steven Gerrard belum mengangkat trofi Premier League, sekarang emang sih ga ngangkat piala BPL juga udah pindah malah ke Los Angeles. Wkwk. Tapi ada beberapa yang ga berubah salah sekiannya adalah TImnas kita masih belum mampu menjadi yang terbaik, jangankan Asia di ASEAN aja Garuda senior belum pernah berjaya. Jangankan bermain di piala dunia, kini timnas (PSSI sih) malah dibekukan oleh FIFA. Carut marut dunia sepakbola lokal makin menambah panjang daftar masalah bangsa.

Sejak mulai menggemari bola saya sering bermimpi Indonesia akan bermain di piala dunia. Suatu hari nanti. Sejak saya baca (di komik tentunya) Jepang berbenah dengan bikin J-League, gagal di Doha, hingga melaju ke piala dunia untuk pertamakalinya di Prancis saya selalu berpikir tiap kali garuda gagal maka akan segera bangkit hingga masuk ke piala dunia. Tapi ada daya. Cuma mimpi. Memang sih Indonesia pernah menorehkan sejarah dengan bermain di Piala Dunia 1938 walaupun masih membawa panji Hindia-Belanda. Di turnamen itu timnas dikalahkan generasi emas Hungaria, The Mighty Magyars, 0-6.

Senada dengan perkataan Coahch TImo tentang pentingnya pengembangan usia dini untuk memajukan pesepakbolaan bangsa, salah satu kunci berjayanya timnas adalah pendidikan dan pengembangan yang tepat sejak dini. Dari kata kata tersebut apabila benar hal tersebut menjadi kunci maka PSSI seharusnya mencontoh Jepang dan Amerika. Bukan cuma tentang pesepakbolaannya tapi tentang kondisi olahraga di sana secara umum. Ada 2 hal yang saya maksudkan seharusnya dicontoh oleh PSSI :

  1. Kompetisi olahraga tingkat nasional
  2. Sistem drafting

Dalam pembinaan usia dini seharusnya anak anak yang berada pada usia 9-12 tahun tidak dulu diajarkan kompetisi namun seharusnya diajarkan bagaimana bermain yang baik dan benar. Hal ini dimaksudkan agar teknik maupun pemahaman taktik dapat dipupuk sejak dini. Jadi bukan cuma menang yang dicari. Pengembangan sifat kompetitif sejak dini justru akan menjadi batu sandungan ketika di level yang lebih senior bertemu dengan lawan yang lebih kuat.

(sumber: drmiraculous.blogspot.com)
           (sumber: drmiraculous.blogspot.com)

Sebagai bentuk follow up berikutnya PSSI seharusnya mencontoh sistem kompetisi olahraga di Jepang, dalam hal ini yang saya angkat adalah Koshien. Koshien adalah sebuah nama stadion baseball di Osaka, Jepang. Selain nama stadion, Koshien adalah nama turnamen nasional baseball SMU di Jepang yang dilaksanakan di sana. Turnamen ini mempertemukan sekolah sekolah terbaik di regionalnya. Yang menarik adalah turnamen tersebut mengundang jutaan pasang mata dari seantero Jepang. Hal itu lah yang berbeda dari kompetisi-kompetisi yang ada di sini. Koshien di siarkan seacara langsung di tv tv nasional di Jepang, selain itu media cetak seperti koran pun ikut memblow up turnamen ini. Tak heran para pemain baseball di kompetisi tersebut yang notabene masih pelajar SMA sudah menjadi terkenal dan bak pahlawan di kampung halaman mereka.

Lalu apa pentingnya blow up tersebut? Untuk seorang remaja SMA, fasa-fasa SMA adalah fasa penentuan mau jadi apa mereka di masa depan. Di fasa-fasa seperti ini (bukan cuma di Jepang sih, di Indonesia juga) orangtua terkadang akan mengarahkan anaknya untuk fokus belajar supaya mampu meraih tempat di perguruan tinggi. Dengan dimuatnya turnamen sekelas Koshien di media akan menambah kebanggaan itu sendiri pada diri orang tua sehingga hal tersebut akan meminimalisir halangan dari orang tua untuk memerintahkan anaknya fokus belajar.

Turnamen sekelas Koshien di taraf sepabola SMA Indonesia sebenarnya sudah ada yaitu liga Pelajar Indonesia, namun sepinya pemberitaan sering kali membuat orang tidak ngeh bahwa ada turnamen bertaraf nasional di Indonesia. Selain itu dengan efek media maka sedikit banyak akan membuat sekolah mempersiapkan turnamen ini dengan sebaik-baiknya. Hal yang perlu dilakukan PSSI sekarang mungkin adalah dengan melakukan rebranding dari turnamen ini dengan sistem yang baru agar benar benar mampu menghasilkan bakat bakat di masa depan.

Tak berhenti di situ saja, turnamen ini harus di follow up dengan baik dalam bentuk scouting dari klub klub Indonesia, atau bahkan bisa saja meniru sistem drafting di Amerika. Hal tersebut akan menimbulkan rasa aman dan meningkatkan lagi totalitas dalam bertanding. Sistem ini akan menjamin para pemain setidaknya akan mendapatkan kontrak dari klub sehingga akan menjamin masa depan pemain tersebut. Ya memang ketidakpastian akan masa depan pemain bola di negeri ini menjadikan dinding penghalang yang besar baik dari diri sang pemain maupun dari diri orang tua.

Last but not least peran orangtua sangat tinggi dalam pengembangan pemain muda. Mungkin bukan dari sisi teknis tapi juga dari sisi dukungan moril dan materiin. Seringkali anak kecil tidak diberi kebebasan melakukan hal yang dia suka dengan dijejali les dan kegiatan yang seabrek. Memang saya tidak dapat menyalahkan hal tersebut, Namun ya mbok ya diberi kebebasan sedikit untuk melakukan hal-hal yang dia suka. Toh ya harusnya anak anak merdeka kan milih mau jadi apa ke depannya. Bukannya di atur atur harus jadi doktter lah, itu lah ini lah. Terkadang memang jalur non konvensional cem atlet dan seniman menjadi jalur non populer di mata orang tua

Tentunya uraian hal-hal tersebut akan jadi sia-sia apabila kondisi klub-klub di Indonesia masih seperti sekarang dimana gaji masih nunggak dan banyak permasalahan lainnya.

Terakhir ya saya berharap suatu hari nanti bisa nonton langsung Indonesia main di piala dunia dari kursi VIP. Amin

Oh iya selamat menunaikan ibadah liga inggris liga italia liga spanyol dan liga liga lainnya yang sudah mulai bergu;lir kembali. Jangan lupa nanti malam ada Arsenal vs Liverpool

Kota Khatulistiwa, 17-24 Agustus 2015

ditulis di tengah panasnya kota, dinginnya AC kantor dan pengapnya kosan

Riyanda Anggara Putra

Loyalitas dan Sepakbola

Tulisan ini sebenarnya pernah saya kirimkan ke PanditSharing, tapi apa boleh buat tulisan saya belum cukup mampu untuk dimuat di website tersebut. Akhirnya saya putuskan untuk menggubah sebagian isinya dan kemudian saya post disini

Sepakbola dan loyalitas sejatinya adalah dua buah kata yang berbeda. Yang satu adalah nama olahraga dan yang lain adalah sebuah kata benda yang merujuk pada sebuah sifat. Tapi 2 kata ini tak bisa dipisahkan apabila kita berbicara tentang pemain pemain macam Totti, Casillas, Xavi, Gerrard, atau bahkan seorang Darren Fletcher. Mereka adalah contoh dari sebagian pemain pemain besar yang memilih untuk loyal kepada klubnya daripada pergi untuk gaji atau uang yang lebih besar di usia emasnya.

Loyalitas di dalam dunia sepakbola ini dapat tumbuh dari berbagai macam hal, mulai dari faktor hometown club, supporter, pemilik klub dan bahkan rasa hutang budi dari pemain ke klub.

Contoh paling nyata dari sebuah loyalitas adalah bagaimana Del Piero, Nedved, Camoranesi, hingga Buffon memilih untuk tetap bertahan di Juventus kendati La Vecchia Signora harus terdegradasi ke Serie-B karena calciopoli (yang baru-baru ini terbukti Juventus tak bersalah). Buffon, Del Piero, Nedved, Camoranesi, serta Trezeguet sedang berada pada masa emasnya ketika Juventus harus merelakan diri bermain di kasta kedua liga italia sepanjang sejarah klub berdiri. (And it left Inter Merda as the only team in Italy that never been relegated :|).

Loyalitas ini terkadang tidak dapat dilogikakan menjadi sebuah teorema. Secara nalar sebagai “pekerja professional” mana ada pemain yang rela membela klub kasta kedua daripada menerima kenaikan pendapatan apabila menerima pinangan klub lain. Tak ayal berbagai macam cara digunakan klub tersebut untuk menghormati pemain pemain loyal tersebut. Pernghargaan tersebut berupa kenaikan gaji, perpanjangan kontrak, pertandingan perpisahan, atau bahkan pemanggilan kembali dari masa pensiun layaknya Paul Scholes (ya kasusnya beda sih kalo Scholes, MU butuh soalnya).

Anomali yang cukup aneh terjadi pada sebuah klub bernama Real Madrid. Seorang kapten tim yang telah 25 tahun menjadi bagian dari klub peraih mahkota terbanyak Liga Champions tersebut harus angkat koper dari klub tersebut. Ya, Casillas adalah sosok pesakitan yang harus angkat kaki dari Real Madrid sebagai bentuk revolusi karena kegagalan musim lalu. Mungkin kita tak dapat membayangkan Santo Iker akan meninggalkan Bernabeu 5 atau 10 tahun lalu.

Casillas adalah contoh kisah dongeng lainnya. Memulai kiprah bersama Madrid sejak usia 9 tahun, Casillas menjadi penjaga gawang termuda yang pernah tampil di Liga Champions, yaitu ketika tahun 2000 melawan Valencia. Casillas kemudian menjadi kapten Los Blancos ketika berusia 29 tahun, selepas kepergian Raul Gonzalez dan Guti Hernandez. 25 tahun Casillas di Madrid sarat dengan prestasi. Sebutlah, 5 gelar La Liga, 3 gelar Liga Champions, 2 gelar Copa del Rey, 4 Supercopa, 2 UEFA Super Cup, 2 piala intercontinental dan 1 FIFA World Cup menjadi raihan Casillas di Madrid.

Florentino Perez “mengusir” Santo Iker disinyalir untuk memberikan ruang kepada David De Gea yang notabene adalah mantan penjaga gawang rival sekota Madrid,Atletico Madrid. Alih alih sukses mendatangkan De Gea, Real Madrid justru baru sukses mendatangkan Kiko Casilla dari Espanyol. Ada kutipan menarik di twitter

“Real Madrid selling Casillas and buying Casilla is like selling your vintage Rolls Royce and buying Toyota”.

sumber foto : www.mirror.co.uk
sumber foto : http://www.mirror.co.uk

Perpisahan yang tak layak juga dipersembahkan Real Madrid kepada Santo Iker. Alih alih pertandingan persahabatan atau acara seremonial di Bernabeu, perpisahan Casillas hanya berupa sebuah press conference yang diwarnai dengan tangisan dari sang Santo. Petualangan Casillas bersama Madrid harur selesai dan Porto akan menjadi labuhan selanjutnya. Perpisahan Casillas dengan Madrid tak cuma mengakhiri karir Casillas bersama Madrid namun juga dapat berarti akhir dari Casillas menjadi penjaga gawang utama timnas Spanyol. Del Bosque pasti lebih mempertimbangkan De Gea menjadi tembok terakhir pertahanan timnas Spanyol dibanding Casillas yang bermain di Superliga Portugal, sebuah liga yang hanya mengirimkan 2 wakilnya ke Liga Champion.

Kisah Iker dan Real Madrid adalah layaknya dua sejoli yang awalnya saling mencintai namun ternyata hanya sebuah kamuflase dimana ternyata cinta tersebut bertepuk sebelah tangan. Casillas sudah mempersembahkan gelar juara dari Copa Del Rey hingga Liga Champions dan diujung perjalanan hanyalah pintu keluar yang ditunjukkan oleh Florentino Perez.

Ada kutipan menarik dari twitter resmi Rio Ferdinand di @rioferdy5

Anyone talking about ‘loyalty’ in football needs a reality check….clubs & players lack loyalty these days…its a business now 100%

Jadi apakah sepakbola hanya tentang bisnis semata? Penulis masih percaya masih ada loyalitas dalam diri para pemain sepakbola

OOT dikit

Loyalitas sebenarnya sangat erat kaitannya dengan proses kaderisasi yang ada di himpunan-himpunan. Loyalitas ini erat kaitannya dengan sense of belonging yang ingin ditumbuhkan oleh himpunan ke kader kadernya.

Layaknya pemain-pemain bola tersebut, tidak semua kader-kader himpunan dapat ditumbuhkan rasa loyalitas di masa osjur. Coba bayangkan, apabila Juventus degradasi pada tahun 2003 apakah Nedved akan tetap di Juve? (Nedved pindah ke Juventus pada awal musim 2001/2002). Tidak semua kader akan tumbuh loyalitasnya ketika masa osjur tersebut. Oleh karena itu bentuk follow up sangatlah penting untuk menjaga kader-kader tersebut. Toh mereka adalah definisi himpunan itu sendiri.

Loyalitas sejatinya adalah bentuk hubungan 2 arah yang dimana sebab maka ada akibat. Apabila ada himpunan yang tidak mengayomi anggotanya, apakah anda masih berharap mereka akan loyal?

Hubungan antar anggota dan himpunan yang lebih cenderung berbasis kekeluargaan (debatable sebenernya) tentunya tidak mengurangi “kewajiban” dari hubungan 2 arah tersebut.

Selamat Ulang Tahun HME ITB

2 hari yang lalu HME ITB berulang tahun ke-65
Sebagai hadiah saya ingin menulis tentang pengalaman saya di HME ITB

hme (1)

4 Juli 2011 menjadi awal mula semuanya

Ya di tanggal itu Masa Bina Cinta untuk HME 2010 dibuka, membuka semua cerita yang menjadi tulisan indah di ingatan saya.
MBC menjadi salah satu momen berharga selama saya menjalani kehidupan di kampus ganesha. Di momen tersebut saya mengenal dan membina cinta bersama 260 orang lainnya di angkatan saya.
20(an) September 2011 angkatan kami PROTON 2010 di lantik menjadi anggota biasa HME ITB, di momen itu pula kami harus meninggalkan atribut angkatan kami dan melebur menjadi satu dengan angkatan lain di himpunan ini. Disini ditanamkan sense of belonging terhadap HME. Hal ini pernah menjadi perdebatan saya dengan Herdito apakah sense of belonging dapat dimunculkan saat MBC atau

Memasuki babak baru sebagai anggota biasa HME layaknya anak yang baru dilantik, keesokan harinya saya ke sekre HME. Bertempat di basement labtek VIII, sekre ini merupakan sekre terluas yang ada di kampus ganesha.

Selanjutnya sekre tersebut menjadi tempat menghabiskan waktu selama kuliah. HME menjadi tempat menginap reguler selama tingkat 2 akhir dan tingkat 3. Malam hari dihabiskan untuk bercerita, berdiskusi serta tawa canda bersama para makhluk-makhluk penjaga sekre tercinta.
Diskusi diskusi ringan tersebut seringkali membuat kita akan waktu, tiba-tiba aja adzan subuh sudah berkumandang. Ditemani dengan kopi dan teh dari air suci dari warung mister Mamo dan dentuman lagu dari laptop serta terkadang game game yang dimainkan bersama waktu pun tak terasa disana.

Tak cuma tidur, prosesi mandi pun terkadang(sering sih sebenernya) dilakukan di toilet kampus, peralatan mandi dan peralatan tidur tersusun rapi di loker masing masing anak HME (yang punya loker).

Siklus hidup saya di HME saat nge-MBC sempat seperti ini : Bangun tidur->sarapan arsi->mandi SF->ngediklat->makan siang kabita->ngosjur->makan malem sedap malam->di diklat->ngobrol ampe pagi->tidur->bangun.

HME ITB memberikan saya banyak sekali kesempatan untuk belajar. Ibarat pembelajaran formal adalah pembelajaran di kelas, maka pembelajaran ko kurikuler saya dapat sebagian besar dari HME ITB ini. HME pula yang membuat saya mengenal banyak orang di penjuru kampus ganesha ini. Kesempatan saat saya diajak Eky jadi BP HME menjadi kesempatan berharga. Di sana saya belajar sulitnya tergabung menjadi eksekutif sebuah lembaga non-profesional yang basisnya kekeluargaan.Layaknya budaya orang timur, banyak permasalahan terkendala “rasa tidak enak” (dikarenakan sistem keanggotaan dan sistem kuorum yang agak rancu juga sih sebenernya) baik ke di dalam badan pengurus itu sendiri dan ke massa HME. Secara pribadi saya menilai kinerja saya kurang selama kepengurusan. Target pribadi saya dan realisasinya berbeda. Saya pernah berdiskusi dengan teman teman saya kalau kami harus meninggalkan legacy di himpunan kami masing-masing. Namun saya tetap tidak bisa memberikan yang terbaik sampai akhir. Kenyamanan yang saya ingin tularkan ke anggota lainnya tak dapat berjalan maksimal. Bahkan orangetv pun tak cukup membantu. Itu salah satu contohnya.

Selesai masa jabatan, HME memberikan saya kesempatan uktuk menjadi salah seorang perwakilan anggota di MPA HME ITB. Di sana saya belajar bagaimana jadi pengawas dan mendalami dokumen dan dasar dasar yang ada di HME. Kesempatan yang saayang sekali dari seharusnya 1 tahun menjabat, saya hanya mampu menunaikan 6 bulan setelah sabuga memanggil saya untuk melakukan prosesi disana.

Di HME saya juga belajar untuk mengambil keputusan yang terkadang menyakitkan dan terkadang mengecawakan banyak orang. Di HME pula saya belajar bahwa tidak semua hal yang anda anggap benar akan dianggap benar pula oleh orang lain.

Di HME saya belajar bahwa kesempatan yang anda tidak ambil akan anda sesalkan di kemudian hari. Bahkan salah satu sahabat saya pernah mengirimkan gambar seperti ini untuk “menyindir” saya

Capture20_6_19

 

Tapi hal-hal tersebut ada untuk dijadikan pembelajaran bukan untuk disesali berkepanjangan.

Suporteran
Saya tidak terlahir dengan bakat olah raga yang mumpuni, namun saya menyukai banyak cabang olahraga untuk ditonton. Hal tersebut membuat saya sangat bersemangat untuk mendukung tim-tim kesukaan saya. Dari kelas 4 SD saya merupakan pendukung Juventus dan Arsenal, namun tentu saja tim kesayangan saya di ITB adalah Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB. Dari berbagai kejuaraan di ITB baik itu GBS,GVC,GBC,GFL,Olimpiade hingga kejuaraan antar teknik elektro di UI hampir saya tidak pernah absen untuk menontonnya. Tidak ada rasa keberatan atau keterpaksaan untuk menonton, karena dengan datang dan mendukung ada perasaan senang tersendiri yang menjadi kepuasan batin. Lagu yang dimiliki HME tidak dapat ditandingi himpunan lain dari segi jumlah. Salah satu lagu favorit saya adalah Petir Ganesha

Petir Ganesha! Ayo berkarya!

Jadi Juara itu yang utama

kami disini siap beraksi

Tembus tradisi untuk pertama kali

Suara nyanyian dari suporter yang serentak dan menggema serta pertandingan yang panas menjadi menu utama kegiatan suporteran. Dan bahkan terkadang terjadi gesekan dengan himpunan lain yang dengan cepat dapat diredakan. Dari lapangan CC hingga GOR UNY pernah saya datangi untuk mendukung massa HME yang bertanding. Puncaknya terjadi saat Olimpiade 2013. HME ITB mampu mempertahankan gelarnya sebagai penguasa Olimpiade. Setelah itu juara GVC diraih dan gelar GBS putra dan putri pun dikawinkan ketika saya akan lulus.

Kelulusan tidak menjadi momen perpisahan saya dengan HME ITB. Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan himpunan ini. Setelah lulus saya masih kesana hampir tiap hari untuk bertukar mimpi dan pikiran dengan banyak orang, hingga akhirnya 26 Oktober 2014 menjadi hari terakhir saya ke HME ITB sebelum meninggalkan Bandung keesokan harinya. Bahkan saya belum sempat berpamitan dengan Pak Nana, Mister Mamo, dan seluruh penghuninya.

Di HME saya belajar berjuta hal
Di HME saya bertemu ratusan teman dan sahabat
DI HME pula saya sempat kehilangan teman
Di HME saya menghabiskan malam dan siang
Di HME saya menemukan (ga nyampe sih) ribuan ide
Di HME saya bertukar pikiran dengan banyak orang
Di HME saya tidur, nonton bola, ngenet, diskusi, rapat, kajian
Di HME saya melakukan banyak hal lainnya

Buat saya HME itu rumah, kantor, teman, berita, sekolah, tempat ibadah (ada musholanya), restoran, warnet, game center, tempat nobar dan masih banyak lagi

Teruslah berkembang menjadi lebih besar dan lebih baik HME
Teruslah menjadi CHAMP dimanapun kamu berada
Teruslah capai tujuan HME
Teruslah menjadi wadah untuk anggotanya
Terusah memfasilitasi dan memberikan yang terbaik untuk ratusan perbedaan pendapat

Selamat Ulang Tahun ke-65 HME ITB

Terima Kasih untuk Segalanya

257829

Elektro ITB derap langkahmu menggema

Elektro ITB desah nafasmu menggemparkan udara

Elektro ITB bakti karyamu jadi dambaan bangsa

Berjayalah selalu di mata dunia Elektro ITB

OK CHAMP!

Elektro 3x

Elektro

We can fight! 

Riyanda Anggara Putra

18010009

Anggota Luar Biasa HME ITB

 

 

 

“ITB kok disini?”

Sudah lebih dari 4 bulan semenjak saya menanggalkan status mahasiswa dan sudah hampir 1 bulan sejak saya meninggalkan kampus ganesha.
Setelah lulus dari kampus ganesha disertai pertimbangan dan renungan yang cukup panjang saya memilih  untuk mencoba meniti karir di PT PLN (persero)
Sebelumnya saya sudah pernah ditolak oleh PLN, namun layaknya Wenger yang diberi beribu kesempatan oleh Arsenal, PLN memberi saya kesempatan kedua untuk mengikuti medcheck ulang dan Alhamdulillah saya lolos.
Belum selesai disitu perjuangan saya, ternyata saya masih harus mengikuti diklat prajab

Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan

Pertama kali kenalan sama temen-temen baru disini pasti pertanyaan standar adalah 1. nama 2. asal. Nah tapi kadang kadang ada yang nanyain “kuliah dimana”

Pertanyaan ketiga tersebut selalu menghasilkan reaksi yang mirip ketika saya jawab, berikut ilustrasinya

A : Kuliah dimana Ngga? (disini saya memperkenalkan diri dengan nama Angga, bukan Gacil)
B : di ITB

A : Loh tumben ada ITB mau masuk sini, biasanya maunya migas doang?

Nah itu adalah salah satu jenis reaksi yang muncul dari mulut ‘si teman baru’, nah lucunya reaksi tersebut banyak muncul. Untuk sesaat bahkan saya sempat mikir “Emang salah ya anak ITB masuk sini?” Opini publik ini dianggap fakta oleh banyak orang yang saya temui.

Orang luar ITB yang saya temui disini banyak menganggap orientasi dari anak ITB adalah materi karena hampir semuanya (menurut mereka) menginginkan masuk ke industri migas ( yang gajinya fresh grad aja 2 dijit). Hal tersebut disertai fakta-menurut mereka- bahwa perusahaan migas kini diisi oleh banyak anak ITB.

Memang tak bisa dipungkiri migas masih menjadi primadona para jobseeker. Bagi anak ITB menurut saya migas menjadi target utama bukan hanya karena insentifnya tapi karena tantangannya juga (bukan semata-mata duit)

Namun menurut saya sebenernya ga hanya migas. Rata-rata anak ITB cenderung open minded, dalam artian tidak semuanya mengincar ranah kerja di industri migas. Ada yang pengen bikin startup lah, ada yang pengen S2 lah, ada yang pengen bank lah, ada yang pengen BUMN, bahkan ada yang pengen wirausaha yang sama sekali ga ada hubungannya dengan teknik.

Mindset orang cari kerja dapat bermacam macam ada yang karir lah, tunjangan menjanjikan, maupun take home pay yang jumlahnya 10 kali lipat UMR Jakarta.

Saya jadi teringat kata kata salah seorang sahabat saya

Percuma kalo misalnya udah susah susah sekolah di TN kuliah di ITB carinya duit doang

Paradigma kesuksesan dinilai dengan materi memang masih melekat di beberapa orang, namun apakah salam yang sering kita lafalkan ” Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater….” hanya tinggal salam? Ataukah bangsa disini maksudnya bangsa asing?

Sebenernya saya awalnya ingin masuk ke swasta dulu sebelum mengabdi ke bangsa, jadi saya ga sepenuhnya men-judge yang memilih masuk swasta itu ga membangun bangsa

Mau tidak mau negara ini nantinya akan dipimpin oleh generasi kita. Mindset duit sudah selayaknya kita hilangkan kurangi . Sudah selayaknya mindset yang ditanamkan adalah bagaimana cara kita membangun bangsa lewat pekerjaan kita? 

Apakah kaderisasi di ITB kurang menempatkan poin nasionalisme?

Atau mungkin orang luar hanya murni men-judge?

Atau mungkin malah saya yang salah nangkap poin dari kaderisasi

Semua jawaban di atas bisa berarti benar

Membangun bangsa ini tak harus dengan masuk BUMN. Banyak cara menuju Roma, yang paling penting adalah niat dan plan jangka panjang yang jelas.

Marilah sejenak kita merenung apakah tiap gerakan kita benar benar untuk Tuhan Bangsa dan almamater? Ataukah hanya untuk pengembangan diri sendiri saja?

Janji

Ngomongin hal kaya gini jadi inget janji beberapa bulan yang lalu bareng temen temen SMA-kuliah

Janji yang dibuat di atas kertas selepas futsal

Amin!
Amin!

Semoga janji tersebut terpenuhi! Amin

” Tunggulah kami dalam reuni

Di Kampus Tercinta Ini

20 tahun lagi…”

Pandaan, 30 November 2014

Riyanda Anggara Putra

Horizontal,Vertical,atau Diagonal?

Akhir-akhir ini berita di segala macam media isinya tentang BBM naik dan tetekbengeknya

Bahkan baru saja pemerintah resmi mengumumkan kenaikan BBM.bisa dilihat di lnk berikut

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/06/21/161720/Premium-Resmi-Rp-6.500-Solar-Rp-5.500-Per-Liter

Sebelum (dan hingga saat ini) BBM naik sudah marak aksi (yang sebagian besar adalah oleh mahasiswa) yang memprotes tentang kenaikan harga BBM ini.Ada yang dengan membawa beribu data,ada yang ikut-ikutan,bahkan ada yang waton jeplak.

Di sini gw ga bakal bahas gw mendukung atau menolak kenaikan BBM yak,pembahasan di atas adalah salah satu contoh ‘gerakan’ yang akan dibahas di tulisan ini.

Apa itu gerakan?

Kalo kata KBBI sih

gerakan /ge·rak·an/ n 1 perbuatan atau keadaan bergerak (air, laut, mesin); 2 pergerakan, usaha, atau kegiatan dl lapangan sosial (politik dsb): ~ kaum buruh;~ sosial tindakan terencana yg dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat disertai program terencana dan ditujukan pd suatu perubahan atau sbg gerakan perlawanan untuk melestarikan pola-pola dan lembaga-lembaga masyarakat yg ada;

yak itu definisi gerakan menurut KBBI,lalu kenapa mahasiswa harus melakukan gerakan?yak kalo disangkutin sama PoPoPe sih salah satu peran mahasiswa kan agent of changes katanya.Kalo dijelaskan sih ya mahasiswa harus bertindak sebagai agen peubah.Tapi jika disangkutkan dengan kasus BBM tersebut,apakah demo turun ke jalan tersebut merupakan jalan yang tepat?

Kalo pendapat gw sih sejujurnya gw menganggap di zaman sekarang aksi macem demo gitu kurang tepat.Kenapa?karena sekeras apapun kita berusaha,pemerintah tidak ada indikasi untuk mendengarkan apalagi mengabulkan isi tuntutan kita.Disini justru gw menganggap aksi-aksi kita dapat dikemas dan dimanfaatkan media untuk memojokkan salah satu pihak.Media sekarang mana sih yang netral?

Kalo menilik zaman OSKM dulu sih pernah dijelasin sama kakak-kakak taplok yang lucum kalo gerakan itu ada dua jeniz yaitu vertical dan horizontal.Gampangnya kalo vertical itu gerakan yang ke atas yaitu gerakan yang langsung mengarah ke pemerintah dan gerakan horizontal adalah gerakan yang lebih mengarah ke masyarakat.Tapi beberapa hari yang lalu gw sepat tersentil pada sebuah tulisan yang menulis bahwa pradigma kita selama ini salah,dengan gerakan horizontal secara tak sengaja kita juga melakukan gerakan vertical karena secara tidak langsung juga mengkritik kebijakan pemerintah.

Nah dari poin-poin di atas yang pengen gw sorotin sih pihak-pihak yang membawa label mahasiswa yang melakukan demo saja tanpa aksi yang nyata.Hal positif yang bisa gw ambil dari kegiatan demonstrasi adalah untuk menunjukkan mahasiswa bisa dan masih mampu bersuara.Tapi apa itu solusi?Iya jawabnya kalo pemerintah mendengarkan,kalo tidak?Tentu itu bukan solusi.Oleh karena itu sebuah aksi gerakan vertical tersebut harus ada follow up berupa gerakan horizontal yang turun langsung ke masyarakat!

Ada orang bangga karena bisa demo sampe masuk gedung DPR,kalo gw sih lebih bangga bisa ngasih tahu mahasiswa atau temen-temen kita buat pake BBM non subsidi

Ya,itu sedikit quote dari ga penting siapa.Maksud dari quote itu adalah daripada susah-susah demo tapi toh pemerintah ga mendengarkan mendingan kita ngelakuin hal kecil yang make sense ke masyarakat.Ya toh?

btw jangan sampe ada yang salah paham yak,gw ga menyalahkan yang demo dan semacamnya tapi ya gw menyayangkan aja kalo misal kita gagal mengubah keputusan pemerintah trus kita udah gitu aja tanpa ada follow up yang bentuknya horizontal